MEMBACA,MENAMBAH WAWASAN____MENULIS,MEMPERTAJAM ANALISA___DISKUSI,MEMBUKA CAKRAWALA

Kamis, 29 September 2016

siroh "UTSMAN BIN ROZIE"

"september ceria...
september ceria...
september ceria...
september ceria...
 milik kita bersama"

sebuah potongan lirik lagu karya vina panduwinata terdengar setiap saat sepanjang bulan september... dan hanya lirik itu, yah... lirik itu saja. kalau boleh saya memakai istilah psikologi transpersonal.... lirik yang terpaksa terdengar dari adik bungsu itu seakan mengetuk alam bawah sadar, dan mampu memberikan sugesti akan hadirnya keceriaan di bulan september.

penghujung bulan september, tepatnya 29 september 2015, pukul 02.00 dini hari
kami telah sah mendapat mandat dari sang kholiq untuk menjadi orang tua biologismu.

kami yang telah di takdirkan oleh penciptamu, untuk menjadi orang tuamu sangatlah bersyukur atas hadirmu
kami telah mencintaimu.. sangat mencintai, bahkan jauh sebelum bertemu denganmu sayang...
hadirmu di rahimku, bukan tanpa alasan. cintailah kami, hormati kami, patuhi perintah kami dalam kebaikan hanya karena satu alasan.... perintah Tuhanmu.

kami berusaha semaksimal mungkin mendekatkanmu dengan syariatNya, dan sunnah nabiNya
kami pilihkan rumah sakit yang membolehkan untuk memutarkan murotal qur'an untuk menyambut kehadiranmu, yang membolehkan inisiasi menyusui dini begitu terdengar tangismu.
kami bisikan dengan lembut kalimat perlindungan di telinga mungilmu "u'idzuhu bika wa dzuriyatahu mina syaitonirrojim"
kami tahnik dengan melumatkan sebutir kurma ajwa lalu dioleskan di langit langit rongga mulutmu.
kami pilihkan dua ekor kambing terbaik untuk kemudian disembelih sebagai aqiqohmu pada hari ke tujuh dari kelahiranmu.
kami cukur gundul rambutmu, lalu rambut itu ditimbang dan berat timbanganya disamakan dengan nilai emas lalu kami sodaqohkan.

dan.. kami pilihkan nama untukmu "utsman abdurrahman ar rozie"
perpaduan dua nama sahabat Rosululloh.... utsman bin affan dan abdurrahman bin auf.
dimana kedua nama sahabat tersebut termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, bahkan ketika jasadnya masih dibumi, surga telah merindukanya.  kami berharap kelak kau mampu meneladani keimanan mereka. kami memilihkan panggilan untukmu.... "utsman" kami berharap setiap orang yang memanggilmu dengan panggilan itu merupakan sebuah doa, ya doa.... bahwa kau kelak akan meneladani sahabat rosululloh yaitu kholifah utsman bin affan.

utsman.... kholifah ke tiga yang masyhur dengan kelembutanya, kedermawaanya, kekayaan harta yang halal lagi baik, dan sifat malu nya. pernah suatu ketika rosululloh sedang berbaring santai dirumahnya.. datanglah sahabat abu bakar dan rosululloh pun mempersilahkanya masuk, lalu sahabat umar bin khotob pun minta izin pula untuk bertamu, rosululloh langsung mengizinkan masuk sebagaimana abu bakar. namun ketika sahabat utsman bin affan datang dan meminta izin untuk bertamu... rosululloh meminta waktu sebentar untuk berbenah dahulu baru kemudian mempersilahkan masuk. ibunda aisyah ra pun bertanya, ada apa dengan utsman ya rosululloh? hingga ada perlakuan khusus yaitu berbenah diri ketika menyambut kedatangan utsman bin affan....rosulullohpun menjawab: bagaimana aku tidak malu kepada orang yang malaikat saja malu kepadanya.

utsman.... menantu rosululloh. bahkan Allah sendiri yang memerintahkan rosululloh untuk menikahkan anak perempuanya dengan utsman bin affan. rosululloh menikahkan anaknya ruqoyah dengan utsman, begitu ruqoyah meninggal, rosululloh kembali menikahkan anaknya ummu kultsum dengan utsman. hingga rosululloh bersabda, ya utsman... andai aku punya anak perempuan lagi maka akan ku nikahkan denganmu. hingga utsman bin affan mendapat gelar dzun nurain. yang memilik memiliki dua cahaya yaitu dua putri rosululloh. betapa mulianya sahabat utsman... jodohnya adalah perintah langsung dari langit ke tujuh, jodohnya adalah putri dari manusia terbaik di muka bumi.

adapun nama ar rozie adalah kejelasan atas nasabmu. zaman dimana kau terlahir, begitu banyak manusia yang memakai nama belakang dengan nama suami, marga, suku, keluarga besar  dan sebagainya padahal Rosululloh hanya membolehkan nama belakang dengan nama ayah, karena dengan demikian akan terlihat jelas garis nasab keturunan. 

wahai anakku...
kami telah berusaha menyambut kehadiranmu dengan mendekatkan sedekat mungkin dengan syariat Allah tabarok dan Rosululloh. maka tumbuhlah engkau menjadi generasi robbani, muwahid, mualim, mujtahid, mujahid...... berjalanlah di muka bumi dengan tetap memegang teguh juklak hidup dari penciptamu. jadilah qurrota 'ayun bagi kami, jadilah lelaki sholih yang senantiasa menjaga batasan dari Robbmu, hingga kelak di akhirat kami sebagai orang tuamu terselamatkan dari pertanyaan dari Allah tabarok.


penuh cinta dari kami
ayah dan ibu



Jumat, 17 April 2015

Hijrahku dalam bingkai "Mitsaq Gholidho"


Demi zat yang jiwaku ada di gengamanNya
Terimakasih atas indahnya jalan cinta ini...


Jiwa yang bebas lepas, tanpa belenggu, tanpa batas...
Tatanan verbalisasi yang begitu indah mengalir hingga membisukan tatanan sistem para pemain laga ...
Ekspresi emosi yang tuntas terluap atas setiap manufer yang tersaji ...
Dan raga yang tak kenal lelah menapaki setiap langkah, menuju sajian indahnya katulistiwa ...

Kini ketika sebuah kalimat sakti yang mampu menggoncangkan wilayah langit telah terucap, ketika lima keping dinnar menjadi mahar atas perhelatan dan para saksi penghuni bumi dan langit mengucap “baarokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoir” atas perhelatan yang tersaji pada dua insan maka...... seluruh jiwa, verbal, ekspresi emosi, hingga raga akan teruji dalam bingkai mistaq gholidho.

Tibalah saatnya hijrah ke pulau sebrang ...
Hijrahku atas nama cinta... cintaku padaMU,
Hijrahku atas nama taat... taatku padaMU, 
Hijrahku atas nama kehambaanku padaMU tuk taat pada lelaki yang kini, dengan ketaatanku padanyalah yang akan membawaku padaMU.

Dalam kesendirian hijrahku, Pergejolakan manusiawiku tetiba tak tertahan. 
Ragaku singgah di negeri awan, namun angganku melayang pada kaleidoskop tanah kelahiranku, pada kedua manusia tercinta dimana restunya telah menyertai setiap langkahku, serta seluruh “aku dengan segala atmosfer terdahulu”.
Wahai penulis skenario hidupku, mampukan hambaMU

Sebulan setelah perhelatan indah itu terlaksana, KAU kirimkan sebuah hadiah yang begitu indah, yang terus berkembang didalam tubuhku. Sebuah titipan dariMU yang akan menjadi penerus generasi ummatMU, dalam sujud ku bergema “Allahumaj’alnii mukima shollat wa min dzuriyatii, robbana wa taqobal du’a”.  
Wahai pemilik jiwa...  izinkan jalan cinta ini berawal, berlangsung, dan berakhir atas namaMU.

Zona baru,  ketika diri menjadi muhajir dan berkumpul dengan kaum ansor sebagai sebuah satu kesatuan yang bernama bani ghoni (sebuah keluarga besar keturunan india pakistan yang bermukim di pulau kalimantan selatan). Hati ini bersuara, ENGKAU bersamaku, tuntun hamba ya Robb.... sungguh ini benar-benar zona baru dimana sangat berbeda dengan sajian hidupku sebelumnya. 

SajianMu kali ini cukup membuatku menjadi observer semata karena seluruh verbalisasiku, jiwaku, hingga ragaku terpasung atas segala perbedaan terirorial, budaya sekitar, aturan maen, dan para pemain laga yang KAU sandingkan. Ketika sujud, ku tak tahu menahu lagi apa yang hendak ku katakan padaMU, namun tubuhku bergetar hebat.... hatiku berkata ”KAU memahamiku dengan sangat baik, tentu sajian yang KAU beri memang layak tersaji”. 

Kala subuh, lamunanku tersadar dengan panggilanMU.... dan tubuh lelaki disampingku bergerak memenuhi panggilanMU, disetiap panggilanMU menuju rumahMU dan berkumpul dengan seluruh hamba yang mencintaiMU.

KAU tau.... itu sangat melegakanku, terimakasih telah mengirim lelaki perkasa yang mampu menempuh perjalanan terjauh, terpanjang, dan terberat pada setiap panggilanMU. Bagiku lelaki perkasa bukan dia yang mampu menaiki puncak tertinggi dari pegununganMU di berbagai wilayah, bukan dia yang mampu melakukan perjalanan terpanjang mengelilingi bumi, bukan dia yang mampu menyelam ke dasar laut terdalam. Tapi dia yang memenuhi panggilanMU dimanapun, dalam kondisi apapun.  Demi zat yang jiwaku ada di gengamanNya, terimakasih atas indahnya jalan cinta ini...

Rasa yang tak logis ataukah logika yang tak berasa, dalam perjalananya telah bermuara pada mitsaq gholidha, karena segalanya berawal, berjalan, dan berakhir atas nama Illahi Robbi

Minggu, 14 April 2013

Citraku Atas Diriku

Dikala hati ini menggeliat
Simfoni dalam sukmaku berteriak memberi penegasan
Kebungkaman tak lagi mampu ku kuasai
ku larungkan tinta maafku wahai jiwa
Simfoni ini buyarkan norma atas citra
Ya... citra ku atas diriku.

Aliran Energi dalam Simfoni ..
Ritme yang tak mampu ku dengar.
Aroma yang tak mampu ku cium
Bayangan yang tak mampu ku tangkap
Irama yang tak mampu ku dengar
Lensaku pun  tak mampu mencandranya
Kabur dan berkabut,  itulah citraku atas diriku.

Konon energi tak mampu musnah,  ia hanya berpindah
Namun energi pada simfoniku...
Adakah energi yang enggan pindah??
Hingga ia berotasi pada porosnya tuk jaga eksistensinya?
walau mediator terbaik telah tersedia???

Citraku atas diriku...
Bukan untukmu, dia, kalian atau mereka
namun Aku, citraku atas diriku

Wahai sumber energi..
sedikit saja Kau bagi energiMu pada sukma ini
sistemku terbengkalai, ajari aku menatanya kembali

Jumat, 16 November 2012

Kekuatan Diksi dalam Narasi

                                            Scribo Ergosum; Aku Menulis maka aku ada
"eksistensi diri dinilai dari kepiawaian menyusun diksi dalam narasi"

Kata merupakan salah satu alat primer komunikasi manusia. ketepatan dalam pemilihan kata, berdampak pula pada ketepatan emosi yang akan disampaikan, pun sebaliknya.

"The True Power of Water" sebuah buku mungil dari Masaru Emoto
memberikan sebuah deskripsi betapa pilihan kata berdampak pada hasil kristalisasi air. dalam percobaanya: Segelas air putih dgn tempelan kertas bertuliskan cinta/trimakasih, setelah dilihat dengan mikrosof ternyata air mampu membentuk kristal yang sangat cantik. begitu pula sebaliknya dengan diksi negatif seperti benci/ jelek, air tak mampu membentuk kristal. bagaimana jika gelas tersebut ditempel dgn "bismillah"?? bagaimanakah bentuk kristal yang dihasilkan?? kemudian bagaimana dampak terhadap organ tubuh serta kondisi psikis jika air itu diminum???

atau contoh sederhana....
ketika  seseorag melihat film  atau membaca sebuah buku, beberapa diantara kita akan mudah terkesan dengan kalimat tertentu dalam suatu dialog maupun pesan tersurat. seperti..
"terkadang kita perlu berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi- perahu kertas"
--> sebuah narasi yang singkat, namun kalimat ini mewakili penjelasan sebuah proses pencarian jati diri manusia, ataupun ketepatan, kenyamanan individu pada segmen tertentu apapun itu... karir, cinta... apapun.
"manusia akan melakukan apapun yang mampu ia lakukan hingga takdirnya terungkap- the last samurai"
--> penjelasan bahwa manusia sangat terbatas dalam meraba sebuah takdir  yang akan hadir pada dirinya, maka keputusan yang dilakukan adalah melakukan hal sebaik mungkin.
"kau memiliki seluruh dunia disini (menunjuk otak), kamu hanya perlu sedikit melihat jauh dari apa yang bisa kamu lihat- the gifted hands"
--> pesan singkat dari seorang ibu kepada anaknya yang mengalami krisis atas kemampuan diri, mengisyaratkan bahwa perlu melihat jauhhh lebih luas, tidak fokus pada kelemahan namun pada sebuah potensi diri. persuasi positif sang ibu... mampu meningkatkan keyakinan atas kemampuan diri.
atau kutipan dari dialog di film "cahaya diatas cahaya"
arya: menurut kamu boneka apa ini? harimau atau serigala?(boneka dengan dua kepala, harimau dan srigala di kedua sisi atas dan bawah)
raya: boneka manusia..
arya: penjelasanya??
raya: harimau tidak mungkin bisa menjadi menjadi srigala, dan srigala mustahil menjadi harimau, namun manusia mampu menjadi keduanya.
--> obrolan santai dengan makna yang cukup menggelitik..  pencitraan diri manusia atas segala pola tingkah lakunya terdeskripsi dengan nyata melalui stimulus boneka.


Diksi... sebuah pilihan kata..
Mampu menjadi jendela untuk melihat, siapa dibalik penyusunnya, apa tujuanya, untuk siapa, hingga kedalaman rasa yang ingin dipersembahkan dalam mencandra.
namun ia juga mampu menjadi alat yang cukup kamuflatif, menjadi topeng atas ketidakmampuan atau ketidakmauan  diri mengenai suatu hal, bahkan ia bisa hadir sebagai pembunuh pada sistem kolektifitas.


Rabu, 30 Mei 2012

Pembuktian Sebuah CINTA

KAU ciptakan aku beserta juklak
KAU takdirkan aku menjelajah alam
KAU sertakan interpreter tuk terjemahkan juklakMU
dan... KAU hadirkan sebuah rasa yang indah pada setiap denyut jantungku
indah... indah sekali, hingga ku lupa bahwa kehadiranku di alam hanya singgah.

KAU perlihatkan padaku sebuah data dan fakta
semua terlihat begitu indah dengan baju validitas dan reliabilitasnya
dan aku begitu mencintainya...
tapi disaat rasa ini pada manufernya, KAU takdirkan aku tersakiti olehnya.

KAU izinkan diksi begitu indah dimataku
hingga ku bermain denganya tanpa kenal lelah
disaat itu pula, KAU takdirkan indraku tak mampu lagi mencerna konflik diksi.

Dalam perjalananku....
KAU bawa aku dengan takdirMU pada taman yang begitu indah
sebuah taman angan yang tercipta dengan tatanan sistem yang dinamis
ya.... lensaku mencandra dengan alur penerjemah yang sistematis
namun.... perlahan, KAU kirimkan petanda padaku
sebuah petanda pengingat bahwa aku sudah terlalu lama bermain.
tak ku indahkan petandaMU... aku bermalas-malas untuk beranjak darinya
mungkin aku cukup nyaman disana...
hingga suatu masa, aku merasa tuli dan buta atas segala yang ku cinta.
ku tak dapat mencandra dengan baik, seluruh sistem nalar dan rasa menjadi  hampa, hambar tanpa ku tau kenapa??? sakitttt..... sakitttttt sekali

Sebuah ketegasan...
fitrahnya sebongkah jiwa telah membawaku padaMU
jiwa ini rapuh, namun mampu menjadi kuat dengan juklakMU
nalarku tak dapat mencerna rengkuhanMU
namun... ku bisa merasa tenang, nyamannnn sekali.

PERANG TABUK, perang penakhluk makkah adalah pembuktian
 "Pembuktian Sebuah Cinta"
Kekuatan romawi, sebuah kekuatan terbesar di dunia pada saat itu berencana akan melakukan penyerangan besar-besaran terhadap kaum muslimin.
sebelum perang tabuk dimulai beberapa informasi simpang siur menjadikan ketakutan yang sangat di komunitas muslim: 

  1. Rumor bahwa Rosulullah akan menceraikan para istri, menjadikan sistem kepemimpinan yang    mulai rentan.
  2. kaum munafiq mendirikan masjid dhirar, masjid untuk memecah belah ummat
  3. informasi tentang raja heraklius romawi telah siapkan tentara terlatih berjumlah 40.000 pasukan
  4. keadaan saat itu kering, musim kemarau, dan cuaca amatlah panas
  5. Rosulullah  memutuskan untuk berangkat dengan segala keterbatasan yang ada

Ditengah perjalanan menuju tabuk, mereka masih di uji dengan berbagai hal seperti mereka harus memakan daun  tuk sekedar membasahi bibir, karena minimnya bekal perjalanan. lalu ketika melewati al hijr perkampungan orang tsamud, Rosulullah melarang mengambil air walau satu tetes .
tidak sedikit nyali kaum muslim yg ciut dan mengeluarkan berbagai alibi untuk tidak ikut dalam perang ini, kaum munafik pun secara terang-terangan menyatakn dukunganya dgn romawi.
setelah sampai di tabuk bayangan ketakutan, kecemasan yang luar biasa tetiba sirna.....
karena justru Allah menjadikan katakutan yang sangatttttt di hati pasukan romawi hingga mereka berpencar kalang kabut di wilayah perbatasan mereka sendiri!!


tak ada perang secara fisik tapi perang pada diri --> seberapa besar cintamu pada TUHANmu, dan pembuktian atas cinta.
Aku tercipta atas nama  "Pembuktian Sebuah Cinta"
medan labirin kehidupan KAU ciptakan, untuk memastikan kredibilitasku atas cinta
apakah aku mampu keluar dari ujian labirinMU
dan membuktikan bahwa aku dapat menjaga sebuah cinta

Sabtu, 26 Mei 2012

Bersyukur Atas Keterbatasan

Lensaku hari ini menangkap slide "quote" pada artikel "bersyukur atas kelebihan dan bersabar atas keterbatasan"sebuah quote yang cukup familiar ditengah masyarakat namun... nalarku saat itu berkata : mari bersyukur atas keterbatasan.

Pada sebuah disiplin ilmu psikologi, retorika penelisik karakter manusia menjadi alat yang cukup ramai diburu. dengan segala konsep memanusiakan manusia.. mereka melihat segala tentang manusia sangat bisa dikomersilkan bahkan dalam hal pendidikan --> komersialisasi pendidikan. tidak sedikit kita jumpai buku membaca pikiran orang semudah membaca buku, alat pendeteksi pikiran dll dari perspektif ilmiah hingga magis.

Sebuah pertanyaan yang muncul dalam acara asi golden ways  "siapa yang ingin dapat membaca semua pikiran orang??" jari telunjuk pun bermunculan di permukaan. "siapa yang ingin pikiranya dibaca orang lain?" tak satupun telunjuk didapat
bayangkan --> jika kita sedang mengisi sebuah acara lalu seturunya dari podium, jatuh terpeleset  dan kita mampu membaca isi setiap kepala yang melihat kita.
betapa malunya.....
betapa mindernya...
kemungkinan terbesar menjadikan kita berpikir sekian kali untuk berada dikeramaian manusia.

Paranormal, magisian, dukun dan berbagai pelatihan untuk dapat melihat hal-hal yang ghoib. tidak sedikit kita jumpai manusia yang bertapa dan segala ritual untuk mendapatkan keahlian tertentu.
bayangkan --> jika kita mampu melihat segala makhluq ghoib dengan segala perwujudan mereka, bisa jadi tidak ada yang dapat kita lakukan. hidup kita hanya ada kecemasan, ketakutan dsb.

Sang Pencipta mencipta pencitaan sesuai kadar dan kebutuhanya bahkan disertakan juklak untuk menjalaninya, pun dengan interpreter juklak. karena ciptaan di beri keterbatasan untuk menelisik lebih lanjut tentang segala.

_fabiayi alaai robbikuma tukadziban_

Selasa, 22 Mei 2012

Suratku Untuk-MU Wahai Pemilik Alam

Wahai pemilik aura pagi yang ku kagumi..
ada anak kecil yang mencoba berkomunikasi denganMU melalui surat yang ia tulis lalu dikirim melalui kantor pos.
ada seorang wanita yang mengirim pesan dalam suratnya melalui perahu kertas yang dihanyutkan ke sungai.
ada pula yang mencoba menerbangkan suratnya ke udara melalui balon gas
dan... setelah ku baca kembali beberapa narasi yang telah ku susun, entah mengapa ku merasa KAU menjawab setiap keluhku pada fenomena yang KAU hadirkan pada hidupku.
mungkin ini salah satu caraku berkomunikasi denganMU..
ya... Suratku untuk-MU

Wahai Tuhanku..
beberapa dekade terakhir, aku merasa benar-benar tak berguna.
padahal semua berjalan seperti biasa.. namun kenapa terasa hampa..
dalam sujudku... ku hanya bisa terdiam serambi terisak dalam ketidakmengertian
aku tak tau mengapa semua terasa begitu hampa..
aku tak tau apa yang ku pinta..
bahkan aku tak tau apa yang ingin ku keluhkan padaMU
dalam durasi waktu yang tak sebentar, ku hanya terdiam tanpa kata.

Narasi terdahulu, ku pernah meminta padaMU tuk tajamkan seluruh indraku hingga ku mampu terjemahkan semua mauMU. apa aku terlalu berlebih dalam meminta? angkuhkah diriku wahai tuhanku?
saat ini...
dengan rasa ini...
ku coba menelisik beberapa profil dengan pewacanaan keilmuan yang mereka punya, namun selalu saja ada alasan untuk melemahkan penguatan itu...

Si pembawa konsep otak kanan...
dengan segala teori yang ia sajikan, tidak sedikit orang mampu terbawa olehnya hingga secara perlahan mampu berpengaruh pada sisi kehidupan baik secara personal maupun kolektif. namun satu bilik nalarku berkata "wajar saja ia berbicara demikian... karena backgroundnya otak kanan, akan sangat berbeda ketika profil itu berdiri sebagai pakar otak kiri"

Si penjual rafia di pasar klewer..
dengan keterbatasanya ia berkisah tentang alur hidupnya yang cukup inspiratif, mampu membangkitkan adrenalin semangat hidup manusia sekitar, namun lagi-lagi nalarku berbisik"wajar saja dia berkata dan merasa demikian, karena keadaan yang serba terbatas. lain hal nya jika ia di kondisi mencukupi"

Si pemilik golden ways..
pembawaan serta tutur kata dengan pilihan diksi mampu membuatnya tampil begitu elegan. tidak sedikit dari manusia terbawa alur oleh narasinya. ah.... nalarku berucap: itulah pandangan dengan background psikologi dan filsafat, memang begitulah cara berpikirnya. namun tidak sepenuhnya dapat dimaknai demikian adanya.... karna akan ada pembatasan yang jelas dan cukup prinsipil dalam kacamata agama.

Tuhannnnnnnnn.....
pernah terbesit di otak ku tuk menulis sebuah konsep "Objektifitas merupakan boomerang bagi kaum intelektual" karena atas nama objektifitas hilanglah keberpihakan seorang intelektual. Dalam melihat sebuah kasus mereka selalu membawa "diksi dalam perspektif" mereka hadir sebagai penyaji data... ya.... hanya sebagai penyaji data !!  tidak ada standarisasi kebenaran, tak ada keberpihakan. lantas apa bedanya kaum intelektual dengan kaum awam????
aku takut terjebak dalam siklus itu... makanya ku tak mau tuliskan. namun rasa ini, kehampaan ini, membuatku berpikir tentang itu... seakan-akan aku terjebak "diksi dalam perspektif"
Tuhannnnnnnn....... sungguh aku begitu mencintai diksi, namun kenapa justru aku terjebak dalam konflik diksi???

Ku coba pudarkan fokusku dengan komunitas yang baru dan kegiatan baru
namun dalam kesibukanku, kenapa rasa ini tetap bersemanyam??
sebuah ujiankah? sebuah hukuman atas kesalahankukah?
KAU sedang ingin bicara apa padaku wahai Tuhanku?? KAU ingin tunjukkan apa pada ku??
atau.... KAU marah padaku, karena aku lalai padaMU? karena aku terlalu mencinta yang lain??

wahai pemilik kebenaran yang mutlak...
malam ini ku hanya bisa mengurai benang kusut pada alurnya, bahwa: 
1. Engkaulah pemilik kebenaran yang mutlak dan tak terbantahkan atas segala  teori ilmiah     dengan validitas dan reliabilitasnya.
2. Kesalahan yang sangat besar jika sebuah kebenaran disandarkan pada profil, apapun itu alasanya kecuali pada interpreter pilihanMU.
3. Jika bersandar terhadap makhluqMU, maka bersiap-siaplah untuk kecewa. Karena hanya padaMU tempat bersandar.
4. Pengetahuan hanyalah media, media untuk memahami suatu hal yang nanti akan dapat digunakan untuk kebaikan, dan tentunya dalam koridorMU.
5. Tidak etis rasanya jika harus berbangga dengan media. Karena media hanya penghantar, bukan goal setting.
6. Pentingnya sebuah tujuan hidup dan  tempat bersandar, dan itu hanya padaMU

Wahai maha penyanyang..
jika peringatan makhluqMU tak mampu sentuh neuron terkecil dalam hatiku, izinkan KAU dan hanya KAU yang menjadi tutor dalam hidupku melalui cara terindah menurutMU.
hingga petunjukMU, mampu ku cerna dengan logika berpikirku...
hingga petunjukMU, mampu ku terima dengan hatiku...
hingga aku menjadi hamba yang pantas untuk KAU sayangi.

Wahai penentu hidup..
maaf... atas kesyukuran yang tak terucap pada nikmat yang KAU beri
maaf... atas keangkuhan hati, pada kelapangan yang KAU beri
maaf... atas keluhan yang senantiasa terucap pada cobaan yang KAU beri

Wahai maha pembolak balik hati..
terimakasih karena aku terlahir dari rahim seorang MUSLIM
terimakasih atas  nikmat ISLAM, nikmat terindah dalam hidupku
terimakasih atas nikmat IMAN yang senantiasa bersemayam di hati
terimakasih atas air mata yang berlinang kala ku bersimpub padaMU
WA ALLAHI.. jangan biarkan hal itu terlepas dari hidupku
yaa.. muqolibal qulubbb tsabit qolbii 'ala ddinik wa tho'atik

ku mohonnn.. pantaskan diri ini tuk jadi hamba yang KAU cinta
ku mohonn.. pantaskan diri ini tuk berkumpul dengan hambaMU yang mencintaiMU dan KAU mencintainya.

Dan... ku mohon..
Mampukan diri ini tuk merasakan nikmatnya IMAN, ISLAM dan IHSAN pada hembusan nafas terakhirku, hingga KAU pantaskan diri ini tuk jadi penghuni SURGA-MU. aminn