MEMBACA,MENAMBAH WAWASAN____MENULIS,MEMPERTAJAM ANALISA___DISKUSI,MEMBUKA CAKRAWALA

Rabu, 30 Mei 2012

Pembuktian Sebuah CINTA

KAU ciptakan aku beserta juklak
KAU takdirkan aku menjelajah alam
KAU sertakan interpreter tuk terjemahkan juklakMU
dan... KAU hadirkan sebuah rasa yang indah pada setiap denyut jantungku
indah... indah sekali, hingga ku lupa bahwa kehadiranku di alam hanya singgah.

KAU perlihatkan padaku sebuah data dan fakta
semua terlihat begitu indah dengan baju validitas dan reliabilitasnya
dan aku begitu mencintainya...
tapi disaat rasa ini pada manufernya, KAU takdirkan aku tersakiti olehnya.

KAU izinkan diksi begitu indah dimataku
hingga ku bermain denganya tanpa kenal lelah
disaat itu pula, KAU takdirkan indraku tak mampu lagi mencerna konflik diksi.

Dalam perjalananku....
KAU bawa aku dengan takdirMU pada taman yang begitu indah
sebuah taman angan yang tercipta dengan tatanan sistem yang dinamis
ya.... lensaku mencandra dengan alur penerjemah yang sistematis
namun.... perlahan, KAU kirimkan petanda padaku
sebuah petanda pengingat bahwa aku sudah terlalu lama bermain.
tak ku indahkan petandaMU... aku bermalas-malas untuk beranjak darinya
mungkin aku cukup nyaman disana...
hingga suatu masa, aku merasa tuli dan buta atas segala yang ku cinta.
ku tak dapat mencandra dengan baik, seluruh sistem nalar dan rasa menjadi  hampa, hambar tanpa ku tau kenapa??? sakitttt..... sakitttttt sekali

Sebuah ketegasan...
fitrahnya sebongkah jiwa telah membawaku padaMU
jiwa ini rapuh, namun mampu menjadi kuat dengan juklakMU
nalarku tak dapat mencerna rengkuhanMU
namun... ku bisa merasa tenang, nyamannnn sekali.

PERANG TABUK, perang penakhluk makkah adalah pembuktian
 "Pembuktian Sebuah Cinta"
Kekuatan romawi, sebuah kekuatan terbesar di dunia pada saat itu berencana akan melakukan penyerangan besar-besaran terhadap kaum muslimin.
sebelum perang tabuk dimulai beberapa informasi simpang siur menjadikan ketakutan yang sangat di komunitas muslim: 

  1. Rumor bahwa Rosulullah akan menceraikan para istri, menjadikan sistem kepemimpinan yang    mulai rentan.
  2. kaum munafiq mendirikan masjid dhirar, masjid untuk memecah belah ummat
  3. informasi tentang raja heraklius romawi telah siapkan tentara terlatih berjumlah 40.000 pasukan
  4. keadaan saat itu kering, musim kemarau, dan cuaca amatlah panas
  5. Rosulullah  memutuskan untuk berangkat dengan segala keterbatasan yang ada

Ditengah perjalanan menuju tabuk, mereka masih di uji dengan berbagai hal seperti mereka harus memakan daun  tuk sekedar membasahi bibir, karena minimnya bekal perjalanan. lalu ketika melewati al hijr perkampungan orang tsamud, Rosulullah melarang mengambil air walau satu tetes .
tidak sedikit nyali kaum muslim yg ciut dan mengeluarkan berbagai alibi untuk tidak ikut dalam perang ini, kaum munafik pun secara terang-terangan menyatakn dukunganya dgn romawi.
setelah sampai di tabuk bayangan ketakutan, kecemasan yang luar biasa tetiba sirna.....
karena justru Allah menjadikan katakutan yang sangatttttt di hati pasukan romawi hingga mereka berpencar kalang kabut di wilayah perbatasan mereka sendiri!!


tak ada perang secara fisik tapi perang pada diri --> seberapa besar cintamu pada TUHANmu, dan pembuktian atas cinta.
Aku tercipta atas nama  "Pembuktian Sebuah Cinta"
medan labirin kehidupan KAU ciptakan, untuk memastikan kredibilitasku atas cinta
apakah aku mampu keluar dari ujian labirinMU
dan membuktikan bahwa aku dapat menjaga sebuah cinta

Sabtu, 26 Mei 2012

Bersyukur Atas Keterbatasan

Lensaku hari ini menangkap slide "quote" pada artikel "bersyukur atas kelebihan dan bersabar atas keterbatasan"sebuah quote yang cukup familiar ditengah masyarakat namun... nalarku saat itu berkata : mari bersyukur atas keterbatasan.

Pada sebuah disiplin ilmu psikologi, retorika penelisik karakter manusia menjadi alat yang cukup ramai diburu. dengan segala konsep memanusiakan manusia.. mereka melihat segala tentang manusia sangat bisa dikomersilkan bahkan dalam hal pendidikan --> komersialisasi pendidikan. tidak sedikit kita jumpai buku membaca pikiran orang semudah membaca buku, alat pendeteksi pikiran dll dari perspektif ilmiah hingga magis.

Sebuah pertanyaan yang muncul dalam acara asi golden ways  "siapa yang ingin dapat membaca semua pikiran orang??" jari telunjuk pun bermunculan di permukaan. "siapa yang ingin pikiranya dibaca orang lain?" tak satupun telunjuk didapat
bayangkan --> jika kita sedang mengisi sebuah acara lalu seturunya dari podium, jatuh terpeleset  dan kita mampu membaca isi setiap kepala yang melihat kita.
betapa malunya.....
betapa mindernya...
kemungkinan terbesar menjadikan kita berpikir sekian kali untuk berada dikeramaian manusia.

Paranormal, magisian, dukun dan berbagai pelatihan untuk dapat melihat hal-hal yang ghoib. tidak sedikit kita jumpai manusia yang bertapa dan segala ritual untuk mendapatkan keahlian tertentu.
bayangkan --> jika kita mampu melihat segala makhluq ghoib dengan segala perwujudan mereka, bisa jadi tidak ada yang dapat kita lakukan. hidup kita hanya ada kecemasan, ketakutan dsb.

Sang Pencipta mencipta pencitaan sesuai kadar dan kebutuhanya bahkan disertakan juklak untuk menjalaninya, pun dengan interpreter juklak. karena ciptaan di beri keterbatasan untuk menelisik lebih lanjut tentang segala.

_fabiayi alaai robbikuma tukadziban_

Selasa, 22 Mei 2012

Suratku Untuk-MU Wahai Pemilik Alam

Wahai pemilik aura pagi yang ku kagumi..
ada anak kecil yang mencoba berkomunikasi denganMU melalui surat yang ia tulis lalu dikirim melalui kantor pos.
ada seorang wanita yang mengirim pesan dalam suratnya melalui perahu kertas yang dihanyutkan ke sungai.
ada pula yang mencoba menerbangkan suratnya ke udara melalui balon gas
dan... setelah ku baca kembali beberapa narasi yang telah ku susun, entah mengapa ku merasa KAU menjawab setiap keluhku pada fenomena yang KAU hadirkan pada hidupku.
mungkin ini salah satu caraku berkomunikasi denganMU..
ya... Suratku untuk-MU

Wahai Tuhanku..
beberapa dekade terakhir, aku merasa benar-benar tak berguna.
padahal semua berjalan seperti biasa.. namun kenapa terasa hampa..
dalam sujudku... ku hanya bisa terdiam serambi terisak dalam ketidakmengertian
aku tak tau mengapa semua terasa begitu hampa..
aku tak tau apa yang ku pinta..
bahkan aku tak tau apa yang ingin ku keluhkan padaMU
dalam durasi waktu yang tak sebentar, ku hanya terdiam tanpa kata.

Narasi terdahulu, ku pernah meminta padaMU tuk tajamkan seluruh indraku hingga ku mampu terjemahkan semua mauMU. apa aku terlalu berlebih dalam meminta? angkuhkah diriku wahai tuhanku?
saat ini...
dengan rasa ini...
ku coba menelisik beberapa profil dengan pewacanaan keilmuan yang mereka punya, namun selalu saja ada alasan untuk melemahkan penguatan itu...

Si pembawa konsep otak kanan...
dengan segala teori yang ia sajikan, tidak sedikit orang mampu terbawa olehnya hingga secara perlahan mampu berpengaruh pada sisi kehidupan baik secara personal maupun kolektif. namun satu bilik nalarku berkata "wajar saja ia berbicara demikian... karena backgroundnya otak kanan, akan sangat berbeda ketika profil itu berdiri sebagai pakar otak kiri"

Si penjual rafia di pasar klewer..
dengan keterbatasanya ia berkisah tentang alur hidupnya yang cukup inspiratif, mampu membangkitkan adrenalin semangat hidup manusia sekitar, namun lagi-lagi nalarku berbisik"wajar saja dia berkata dan merasa demikian, karena keadaan yang serba terbatas. lain hal nya jika ia di kondisi mencukupi"

Si pemilik golden ways..
pembawaan serta tutur kata dengan pilihan diksi mampu membuatnya tampil begitu elegan. tidak sedikit dari manusia terbawa alur oleh narasinya. ah.... nalarku berucap: itulah pandangan dengan background psikologi dan filsafat, memang begitulah cara berpikirnya. namun tidak sepenuhnya dapat dimaknai demikian adanya.... karna akan ada pembatasan yang jelas dan cukup prinsipil dalam kacamata agama.

Tuhannnnnnnnn.....
pernah terbesit di otak ku tuk menulis sebuah konsep "Objektifitas merupakan boomerang bagi kaum intelektual" karena atas nama objektifitas hilanglah keberpihakan seorang intelektual. Dalam melihat sebuah kasus mereka selalu membawa "diksi dalam perspektif" mereka hadir sebagai penyaji data... ya.... hanya sebagai penyaji data !!  tidak ada standarisasi kebenaran, tak ada keberpihakan. lantas apa bedanya kaum intelektual dengan kaum awam????
aku takut terjebak dalam siklus itu... makanya ku tak mau tuliskan. namun rasa ini, kehampaan ini, membuatku berpikir tentang itu... seakan-akan aku terjebak "diksi dalam perspektif"
Tuhannnnnnnn....... sungguh aku begitu mencintai diksi, namun kenapa justru aku terjebak dalam konflik diksi???

Ku coba pudarkan fokusku dengan komunitas yang baru dan kegiatan baru
namun dalam kesibukanku, kenapa rasa ini tetap bersemanyam??
sebuah ujiankah? sebuah hukuman atas kesalahankukah?
KAU sedang ingin bicara apa padaku wahai Tuhanku?? KAU ingin tunjukkan apa pada ku??
atau.... KAU marah padaku, karena aku lalai padaMU? karena aku terlalu mencinta yang lain??

wahai pemilik kebenaran yang mutlak...
malam ini ku hanya bisa mengurai benang kusut pada alurnya, bahwa: 
1. Engkaulah pemilik kebenaran yang mutlak dan tak terbantahkan atas segala  teori ilmiah     dengan validitas dan reliabilitasnya.
2. Kesalahan yang sangat besar jika sebuah kebenaran disandarkan pada profil, apapun itu alasanya kecuali pada interpreter pilihanMU.
3. Jika bersandar terhadap makhluqMU, maka bersiap-siaplah untuk kecewa. Karena hanya padaMU tempat bersandar.
4. Pengetahuan hanyalah media, media untuk memahami suatu hal yang nanti akan dapat digunakan untuk kebaikan, dan tentunya dalam koridorMU.
5. Tidak etis rasanya jika harus berbangga dengan media. Karena media hanya penghantar, bukan goal setting.
6. Pentingnya sebuah tujuan hidup dan  tempat bersandar, dan itu hanya padaMU

Wahai maha penyanyang..
jika peringatan makhluqMU tak mampu sentuh neuron terkecil dalam hatiku, izinkan KAU dan hanya KAU yang menjadi tutor dalam hidupku melalui cara terindah menurutMU.
hingga petunjukMU, mampu ku cerna dengan logika berpikirku...
hingga petunjukMU, mampu ku terima dengan hatiku...
hingga aku menjadi hamba yang pantas untuk KAU sayangi.

Wahai penentu hidup..
maaf... atas kesyukuran yang tak terucap pada nikmat yang KAU beri
maaf... atas keangkuhan hati, pada kelapangan yang KAU beri
maaf... atas keluhan yang senantiasa terucap pada cobaan yang KAU beri

Wahai maha pembolak balik hati..
terimakasih karena aku terlahir dari rahim seorang MUSLIM
terimakasih atas  nikmat ISLAM, nikmat terindah dalam hidupku
terimakasih atas nikmat IMAN yang senantiasa bersemayam di hati
terimakasih atas air mata yang berlinang kala ku bersimpub padaMU
WA ALLAHI.. jangan biarkan hal itu terlepas dari hidupku
yaa.. muqolibal qulubbb tsabit qolbii 'ala ddinik wa tho'atik

ku mohonnn.. pantaskan diri ini tuk jadi hamba yang KAU cinta
ku mohonn.. pantaskan diri ini tuk berkumpul dengan hambaMU yang mencintaiMU dan KAU mencintainya.

Dan... ku mohon..
Mampukan diri ini tuk merasakan nikmatnya IMAN, ISLAM dan IHSAN pada hembusan nafas terakhirku, hingga KAU pantaskan diri ini tuk jadi penghuni SURGA-MU. aminn

Selasa, 08 Mei 2012

Akhir Sebuah Kehampaan

Panas tercipta, agar kehadiran dingin lebih terasa..
Lapar berasa, agar kenyang dapat disyukuri..
Semua rasa yang menyapa akan lebih terasa dengan rasa yang kita mau, dengan cara yang kita pilih
Semua rasa dapat terungkap, walau dengan tutur yang sederhana
Dan mungkin itu cukup manusiawi...

Lantas... bagaimana dengan sebuah "kehampaan" ??
Aneh rasanya.. tetiba merasa "i'm useles"
Meratapi rasa_keterpurukan hidup, dan mendapati alasan tuk sekedar mencaci.

Semua berjalan seperti biasa..
Namun entah mengapa dengan sebuah kehampaan, kekosongan...
Jalan terhampar, namun mengapa semua terasa buntu?
Cahaya begitu benderang, namun mengapa terasa gulita?
Keramaian kota tak pernah padam, namun mengapa terasa begitu sunyi?
Seorang seniman, mungkin akan mudah untuk tampil lebih produktif karena kehampaan itu sendiri dapat Tervisualisasikan dengan berbagai media: sastra, lukis, nada, pahat dll
Lalu bagaimana dengan kehampaan yang hadir pada diri?
Ah.... rasa yang bodoh, dengan pertanyaan yang bodoh !!

Ya... ya.... mungkin inilah  yang disebut fase hidup
Terkadang kita perlu berputar menjadi orang lain, untuk kemudian menjadi diri sendiri.
Yah.... untuk menjadi kupu-kupu yang cantik, seekor ulat yang menjijikan harus mengurung diri, terpuruk tuk Menjalani sebuah proses dalam kepompong.

Opto Ergosum... Hidup itu pilihan
Memilih untuk  terus terpuruk dengan segala kehampaan yang tak berujung??
Ataukah bergegas meninggalkan semua kebodohan dengan melangkah dan terus melangkah.
Sehebat apapun konsep hidup manusia... lagi-lagi mereka hanya bisa berencana
Namun satu hal yang perlu diingat "Matematika Hidup" bahwa setiap hal yang telah diupayakan akan berdampak.
Walau dengan cara perwujudan yang beragam dengan nilai yang sama.
Kuantitas dan kualitas usaha berbanding lurus dengan hasil, walau hadir dengan cara yang berbeda.
Pilihan untuk mengakhiri sebuah kehampaan.