Rasa.....
entah kenapa begitu susah ku cerna kehadiranmu..
hadir dan perlahan hancurkan tatanan sistem operational logika..
langkahmu tak pasti...
sangat fluktuatif bahkan logical sequence akalpun tak mampu tuk jadi kompas penunjuk arah..
Sesaat logika bunuh rasa, ketika grafik perjalanan itu mulai melemah..
ya... sesaat....semua terkendali dan sistem operational itupun berjalan dengan semestinya.
tapi entah kenapa ketika grafik rasa mulai tampakkan manufernya, logika ini tak mampu lagi pertahankan tatanan sistem...
Rasapun bebas tuk kepakkan sayapnya, airan afeksi ini dengan mudahnya mengalir hingga neuron terkecil dalam tubuh.. logikapun diam membisu dengan ketidakberdayaanya...
rasa yang tak logis ataukah logika yang tak berasa... kenapa kohesifitas keduanya susah untuk tercipta..
Hingga suatu masa.... Super Ego datang..
isyaratkan makna serta posisi sebuah norma dalam area
Ia hadir dengan ketegasan... melalui SabdaNya
bahwa semua memiliki area dan masa tersendiri...
Kau tak perlu risau dengan rasa yang tak logis ataupun logika yang tak berasa.
karena masing-masing memiliki wilayah, aturan, dan cara yang berbeda.
semua akan indah pada waktu yang tepat, dan tempat yang sesuai
Hanya butuh cara yang cantik tuk hadirkan keduanya dalam forum...
Ya Allah....
Ku hanya ingin ikuti jalan yang Kau isyaratkan lewat interpreter pilihanMu....
please.. ^_^
Senin, 20 Juni 2011
Senin, 25 April 2011
Bisikan Alam Kala Senja Menyapa
Suatu senja...
KAU bawa aku dengan takdir-MU..
pada suatu denah... dimana KAU buatku bisa merasa..
sendiri... sepi... sunyi... dan aku benci...
disaat yang sama ketika ku mengeluh padaMu...
kau terbangkan pikirku hingga kau buat semua begitu hidup..
semua tampak nyata...ku lihat, ku dengar, dan aku senyum...
ku terdampar disuatu sudut gubuk ditengah hiruk pikuk tengah kota.
dengan air yang terus KAU alirkan dengan derasnya...
dia ciptakan irama ketika bertemu dengan atap gubuk serta benda keras yang lain,
dia belai lembut pelepah pohon, jalanan serta segala yg ia lewati hingga tampak segar kembali..
bersama hembusan angin yang mengajak helai daun tuk berdansa...
ssstttttt..... dengar sejenak :
mereka bergulung2.. bekerja bakti bersihkan jalan..)
brmmmmm bbrrrrmmmmmm
sejenak aku terhenyak... rupanya suara motor cross melintas di hadapanku dan menarikku kembali ke alam sadar.. rupanya hujan sudah reda. dan saatnya ku lanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
sebelum ku melaju.. sempat ku liat pohon yang sudah tampak segar... dan ku lempar sedikit senyumku pada nya.
KAU bawa aku dengan takdir-MU..
pada suatu denah... dimana KAU buatku bisa merasa..
sendiri... sepi... sunyi... dan aku benci...
disaat yang sama ketika ku mengeluh padaMu...
kau terbangkan pikirku hingga kau buat semua begitu hidup..
semua tampak nyata...ku lihat, ku dengar, dan aku senyum...
ku terdampar disuatu sudut gubuk ditengah hiruk pikuk tengah kota.
dengan air yang terus KAU alirkan dengan derasnya...
dia ciptakan irama ketika bertemu dengan atap gubuk serta benda keras yang lain,
dia belai lembut pelepah pohon, jalanan serta segala yg ia lewati hingga tampak segar kembali..
bersama hembusan angin yang mengajak helai daun tuk berdansa...
ssstttttt..... dengar sejenak :
- angin : alam... ayo kita bermain. sejenak lepaskan beban..lari se kencang-kencangnya..ayo pohonn.... ayolah gerakkan badanmu.. kau sudah terlalu lelah tuk panyungi manusia kala mereka kepanasan.
- pohon : trimakasih angin..tampaknya ototku memang sudah mulai kaku.. dan butuh sedikit olahraga..
- air : dan aku datang tuk guyur tubuhmu yang sudah tak segar lagi pohon....
- pohon : air.. lihatlah.. badanku kini terlihat bersih.. segar.. hmmmm aku bahagia punya kawan seperti kalian. air... angin... apa yang kalian lakukan???
mereka bergulung2.. bekerja bakti bersihkan jalan..)
- air dan angin : nanti... ketika masa beralih, kau yang harus menjaga manusia dari panasnya terik matahari...kau juga harus suplai mereka dengan oksigen mu pohon..salam ya... bwt gadis didepanmu..
brmmmmm bbrrrrmmmmmm
sejenak aku terhenyak... rupanya suara motor cross melintas di hadapanku dan menarikku kembali ke alam sadar.. rupanya hujan sudah reda. dan saatnya ku lanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
sebelum ku melaju.. sempat ku liat pohon yang sudah tampak segar... dan ku lempar sedikit senyumku pada nya.
Sabtu, 09 April 2011
Stereotipe Sebuah Mesin Pencipta Sekaligus Penghancur Mind-Set
sesaat...
konsep diri membuyar...
efikasi diri beredar....
dan.. kayuh itu begitu rapuh tuk kayuhkan laju perahu menuju pelabuhan tertuju..
selembar kertas kuning dengan kekuatan tinta pencetaknya
telah menggugah fikirku....
hingga membawa angan pada lembaran kertas sebelumnya...
kertas putih.... kau hadir di kehidupanku tanpa permisi, tanpa undangan
kau hadir dengan memanyungi misi pencitraan diri dari masing- masing ukiran tintamu.
begitu hebat tinta itu menari di atas kertas hingga tanamkan stereotipe di benakku.
dalam durasi waktu yang tak panjang, tanpa ku sadari stereotipe kertas itu semakin dalam tertanam.....
rupanya ia telah berkolaborasi dengan verbalisasi pemegang tinta,
ya.... lebih tepatnya pengamat realita dengan segudang teori ilmiahnya.
walaupun sebagian mereka hadir dari latar yang berbeda... mereka cukup memiliki kohesifitas yang tinggi
hebat.... sebuah mind-set manusia terbentuk dari lembaran kertas dengan label... validitas dan reliabilitas telah teruji.... waktu terus berlalu... hingga datanglah si kertas kuning membawa citra diri dengan cara yang serupa namun citra yang berbeda...
bingung.... berontak.... semua terlihat abu-abu...
arogansi emosi beraksi....
ku coba hadirkan nalar.. ku coba fahami diri....
ku begitu mencintai dan menghargai sebuah data dan fakta... tp justru aku dibingungkan oleh keduanya..
sedikit bimbang tapi aku menikmati kebimbanganku...
rasa nggk bisa bohong.... hanya butuh sedikit cara cantik tuk fahami kebimbangan sebuah rasa.
bolehlah... stereotipe baik dari data empiris, maupun verbalisasi manusia dengan segudang teorinya mampu hadirkan pola fikir tertentu... tp itu bukan harga mutlak.... bagaimanapun kondisi saat ini bukan jadi alasan sebuah kegagalan.... "berbaik sangkalah pada Tuhanmu... karena IA sesuai dengan prasangka hambaNya"
konsep diri membuyar...
efikasi diri beredar....
dan.. kayuh itu begitu rapuh tuk kayuhkan laju perahu menuju pelabuhan tertuju..
selembar kertas kuning dengan kekuatan tinta pencetaknya
telah menggugah fikirku....
hingga membawa angan pada lembaran kertas sebelumnya...
kertas putih.... kau hadir di kehidupanku tanpa permisi, tanpa undangan
kau hadir dengan memanyungi misi pencitraan diri dari masing- masing ukiran tintamu.
begitu hebat tinta itu menari di atas kertas hingga tanamkan stereotipe di benakku.
dalam durasi waktu yang tak panjang, tanpa ku sadari stereotipe kertas itu semakin dalam tertanam.....
rupanya ia telah berkolaborasi dengan verbalisasi pemegang tinta,
ya.... lebih tepatnya pengamat realita dengan segudang teori ilmiahnya.
walaupun sebagian mereka hadir dari latar yang berbeda... mereka cukup memiliki kohesifitas yang tinggi
hebat.... sebuah mind-set manusia terbentuk dari lembaran kertas dengan label... validitas dan reliabilitas telah teruji.... waktu terus berlalu... hingga datanglah si kertas kuning membawa citra diri dengan cara yang serupa namun citra yang berbeda...
bingung.... berontak.... semua terlihat abu-abu...
arogansi emosi beraksi....
ku coba hadirkan nalar.. ku coba fahami diri....
ku begitu mencintai dan menghargai sebuah data dan fakta... tp justru aku dibingungkan oleh keduanya..
sedikit bimbang tapi aku menikmati kebimbanganku...
rasa nggk bisa bohong.... hanya butuh sedikit cara cantik tuk fahami kebimbangan sebuah rasa.
bolehlah... stereotipe baik dari data empiris, maupun verbalisasi manusia dengan segudang teorinya mampu hadirkan pola fikir tertentu... tp itu bukan harga mutlak.... bagaimanapun kondisi saat ini bukan jadi alasan sebuah kegagalan.... "berbaik sangkalah pada Tuhanmu... karena IA sesuai dengan prasangka hambaNya"
Senin, 04 April 2011
Jumat, 18 Maret 2011
Re-generasi... Sebuah Konsep Penurunan Hereditas Idiologi
Manusia dan komunitasnya serta paradigma yang mereka usung merupakan pelukis peradaban alam. peradaban yang bersifat visioner tidak akan pernah tercipta tanpa adanya re-generasi sebagai pengusung visi dalam ciptakan manufer-manufer peradaban selanjutnya.
Tidak sedikit dari individu dengan mobilitas yang cukup tinggi mengeluhkan perilaku generasi muda selanjutnya, padahal dari sisi dana sudah lebih dari cukup mereka mensuport. segala bentuk fasilitas telah mereka sediakan hingga mereka terjebak dalam kebimbangan yang mereka ciptakan sendiri. dan kondisi ini pun menjadi kebimbangan kolektif dalam masyarakat.
sedikit menilik pada organisasi yang tercipta di sekitar..
sebuah kerajaan telah terbentuk visi, misi, serta aturan maen, terciptalah manufer-manufer indah dengan segudang karya yang cukup memukau, suatu ketika pada generasi selanjutnya terjadi ketidak-seimbangan dan merekapun mencoba menciptakan konsep, dan aturan baru begitu pula dengan generasi selanjutnya. setiap generasi, terjadi pembentukan konsep baru bukan pembaharuan.... semua dari nol.... kebimbangan kolektif tercipta....
Sebagian dari kita telah melupakan sebuah konsep cantik dan fatal dalam sebuah re-generasi. Re-generasi bukan hanya sekedar munculnya generasi selanjutnya secara kuantitas, akan tetapi lebih pada bagaimana sebagai pioneer dapat menurunkan sebuah konsep idiologi kepada generasi berikutnya. ketika sebuah mind-set indah telah tertanam pada generasi selanjutnya maka miniatur pencipta karya telah tercipta. hereditas idiologi yang tertanam pada generasi tersebut dapat berkembang dan akan terus melanjutkan perjuangan hingga manufer peradaban tercipta dengan elegan....
Mari segarkan kembali konsep Re-generasi....
bukan hanya secara kuantitas tapi bagaimana penurunan hereditas idiologi hingga perjuangan akan terus berlanjut... dan manufer karya akan tercipta
Tidak sedikit dari individu dengan mobilitas yang cukup tinggi mengeluhkan perilaku generasi muda selanjutnya, padahal dari sisi dana sudah lebih dari cukup mereka mensuport. segala bentuk fasilitas telah mereka sediakan hingga mereka terjebak dalam kebimbangan yang mereka ciptakan sendiri. dan kondisi ini pun menjadi kebimbangan kolektif dalam masyarakat.
sedikit menilik pada organisasi yang tercipta di sekitar..
sebuah kerajaan telah terbentuk visi, misi, serta aturan maen, terciptalah manufer-manufer indah dengan segudang karya yang cukup memukau, suatu ketika pada generasi selanjutnya terjadi ketidak-seimbangan dan merekapun mencoba menciptakan konsep, dan aturan baru begitu pula dengan generasi selanjutnya. setiap generasi, terjadi pembentukan konsep baru bukan pembaharuan.... semua dari nol.... kebimbangan kolektif tercipta....
Sebagian dari kita telah melupakan sebuah konsep cantik dan fatal dalam sebuah re-generasi. Re-generasi bukan hanya sekedar munculnya generasi selanjutnya secara kuantitas, akan tetapi lebih pada bagaimana sebagai pioneer dapat menurunkan sebuah konsep idiologi kepada generasi berikutnya. ketika sebuah mind-set indah telah tertanam pada generasi selanjutnya maka miniatur pencipta karya telah tercipta. hereditas idiologi yang tertanam pada generasi tersebut dapat berkembang dan akan terus melanjutkan perjuangan hingga manufer peradaban tercipta dengan elegan....Mari segarkan kembali konsep Re-generasi....
bukan hanya secara kuantitas tapi bagaimana penurunan hereditas idiologi hingga perjuangan akan terus berlanjut... dan manufer karya akan tercipta
Jumat, 11 Maret 2011
dee... supernova
Engkaulah getar pertama yang meruntunhkan gerbang tak berhujung mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tak pasti.
Namun aku terus disini.
Mencintaimu.
Entah kenapa?
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan dengan ketiadaan.
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tak pasti.
Namun aku terus disini.
Mencintaimu.
Entah kenapa?
Kamis, 10 Februari 2011
Euforia Sebuah Kohesifitas Internal
Sebuah komunitas yang tercipta dari serpihan mozaik tidak akan terlepas dari suguhan kohesifitas internal, walau hanya kamuflatif semata. karena mereka satu kesatuan yang harus ada bagaimanapun bentuknya. inilah hidup yang selalu bersinggungan dengan berbagai aspek internal dan eksternal faktor kehidupan.
komunitas dimanapun, apapun dan bagaimanapun akan selalu diiringi sebuah gesekan antar anggota komunitas, dan gesekan itu memiliki prosentase yang beragam sehingga kemunculan dominasi dan resesif itu seakan wajib ada. sebagian pihak resesif akan terpinggirkan oleh pihak dominasi.
diluar adil atau tidaknya kebijakan... diluar pantas atau tidaknya sebuah sikap....
fenomena siratkan serakahnya manusia........ dengan alat bantu yang mereka miliki.
sebuah kohesifitas internal sebagai jargon indah komunitaspun hampir hadir sebagai wacana belaka.
euforia kohesifitas mencuat dengan topeng indah...tanpa hiraukan eksistensi dibalik sebuah makna kehidupan.
wahai jiwa.... marilah belajar memanusiakan manusia hingga personal komunitas dapat saling menghargai dan euforia kohesifitas internal sebuah komunitas bukanlah sebuah pewacanaan jargon semata......
komunitas dimanapun, apapun dan bagaimanapun akan selalu diiringi sebuah gesekan antar anggota komunitas, dan gesekan itu memiliki prosentase yang beragam sehingga kemunculan dominasi dan resesif itu seakan wajib ada. sebagian pihak resesif akan terpinggirkan oleh pihak dominasi.
diluar adil atau tidaknya kebijakan... diluar pantas atau tidaknya sebuah sikap....
fenomena siratkan serakahnya manusia........ dengan alat bantu yang mereka miliki.
sebuah kohesifitas internal sebagai jargon indah komunitaspun hampir hadir sebagai wacana belaka.
euforia kohesifitas mencuat dengan topeng indah...tanpa hiraukan eksistensi dibalik sebuah makna kehidupan.
wahai jiwa.... marilah belajar memanusiakan manusia hingga personal komunitas dapat saling menghargai dan euforia kohesifitas internal sebuah komunitas bukanlah sebuah pewacanaan jargon semata......
Langganan:
Postingan (Atom)