Kisahku_siang bolong di bandara Adi Soemarmo
Ketika bola mata ini terfokus pada salju tebal yang menyelimuti si mio soul matic, tiba-tiba ku terpendar dari fokusku. ya... sesaat setelah wanita tua memelukku dengan erat serambi berkata "cucuku... oh cucuku.. kemana saja kau" _ tak dapat ku pungkiri, detak jantungku berdetak kencang, nafasku tersenggal-senggal dan tubuhku melemas. Tanpa ku sadari fokusku meningkat berlipat ganda pada kedua bola mata wanita tua di hadapanku. ku dengar suara lantang seorang lelaki pencuci motor "loh..... mbah.. badala... wong edan"...Aaaarrrghhh..... teriakku, Refleksifitas menariku ke alam sadar hingga ku mampu mengatur kembali nafasku yang sempat tak beraturan. Alhamdulillah... lega ku rasa.
kini aku dan wanita tua dengan sanggul bunga kamboja itu berjarak kurang lebih 4meter. sebuah jarak yang cukup tuk tenangkan fikirku, ia tersenyum padaku... entah isyaratkan apa lagi, logikaku tak mampu mencernanya. perlahan ia ayunkan kedua kakinya... dan melangkah ke arahku.._ deg deg.. kembali jantungku mulai labil. empat langkah kemudian ia berbalik arah _ fiuh legaaa.... Ia menengadahkan pandanganya ke atap langit sambil bernyanyi "PADAMU NEGERI.. KAMI BERBAKTI, PADAMU NEGERI KAMI BERBAKTI.." ya... wanita tua itu nyanyikan lagu kebangsaan sambil mengayunkan kedua tangannya laksana dirijen dalam upacara bendera.
hening..seluruh mata terfokus padanya, nalarku berkata_ ya... inilah profil buyut bangsa dengan rasa nasionalisme yang tinggi, dan layak di banggakan oleh bangsa ini. bagaimana tidak??.. seorang wanita dengan umur hampir satu abad ini mampu menyanyikan lagu kebangsaan dengan nada betha, sambil menengadah ke atap langit, menantang teriknya matahari bahkan.... sesekali ia menciumi tanah bangsa ini dalam durasi waktu kurang lebih 40 menit.
ku lihat kebanggaan yang nyata seorang buyut bangsa pada tanah air tercinta.
Rabu, 21 September 2011
Minggu, 17 Juli 2011
dengan kehendak-Mu, aku terlahir sebagai wanita
Wanita...
Tercipta dengan dominasi rasa..
Fenomena yang datang dicerna dengan rasa..
Bukan hal yang mudah tuk ungkap rasa dengan keteraturan abjad..
Ketika zona rasa tersentuh
Maka verbalisasi, aksara tertulis bahkan gesture tak lagi menjadi bahasa yang komunikatif
Seluruh element beraksi..
Setiap diksi yang terpilih, bukan berarti memiliki makna yang serupa..
Semua serba multi interpretatif....
Dominasi rasa pada kaum hawa..
Menjadikanya begitu mudah tersentuh dengan kata..
Sebuah kata mampu membuat rasa menjadi tenang ataupun gelisah ..
Ia mampu menyembunyikan rasa..
Menangis, tak berarti sedih.. tertawapun tak berarti bahagia...
Bukan hal yang mudah tuk memahaminya...
Jangan coba menebak apa yang dirasa...
Tapi tanyakan padanya atas kejujuran sebuah rasa...
_mencoba mengamati komunitas hawa dengan rasa yang mereka punya_
Tercipta dengan dominasi rasa..
Fenomena yang datang dicerna dengan rasa..
Bukan hal yang mudah tuk ungkap rasa dengan keteraturan abjad..
Ketika zona rasa tersentuh
Maka verbalisasi, aksara tertulis bahkan gesture tak lagi menjadi bahasa yang komunikatif
Seluruh element beraksi..
Setiap diksi yang terpilih, bukan berarti memiliki makna yang serupa..
Semua serba multi interpretatif....
Dominasi rasa pada kaum hawa..
Menjadikanya begitu mudah tersentuh dengan kata..
Sebuah kata mampu membuat rasa menjadi tenang ataupun gelisah ..
Ia mampu menyembunyikan rasa..
Menangis, tak berarti sedih.. tertawapun tak berarti bahagia...
Bukan hal yang mudah tuk memahaminya...
Jangan coba menebak apa yang dirasa...
Tapi tanyakan padanya atas kejujuran sebuah rasa...
_mencoba mengamati komunitas hawa dengan rasa yang mereka punya_
Kamis, 14 Juli 2011
Elegansi Sebuah Karya Terlahir dari "kegalauan" Emosi
" Akankah sebuah karya yang elegan hanya mampu dilahirkan dari kondisi emosi manusia yang labill?? jika faktanya memang demikian adanya... akankah manusia membutuhkan stressor
untuk menghasilkan sebuah karya??"
Sebuah tanya yang cukup liar bermain di alam fikirku....
sepintas ku lirik sliding diary kontemplasi seorang kompulsif... slide demi slide... perlahan ku telusuri hingga ku dapati satu rangkaian yang tersusun rapi, dan rangkaian itu isyaratkan sebuah mini konsep
Terpilihlah sebuah diksi "galau" entahlah secara definitif, sejauh ini kata galau isyaratkan emosi negatif pada manusia. beberapa karya dapat tercipta, diboncengi dengan kegalauan fikiran pencipta... sadar atau tidak.... kegalauanlah yang memaksa manusia tuk keluarkan manufer karyanya...
Galau.. sebuah representasi emosi negatif manusia, dimana rasa ketidak-nyamanan hadir dan mengganggu alam fikir hingga berdampak pada kegoncangan tatanan sistem logika.
Jika memang faktanya galau merupakan guru terbaik tuk hasilkan karya. sebuah tanya pun datang tanpa diundang. kenapa harus emosi negatif yang mampu menggerakkan psikomotor tuk hasilkan karya??? bagaimana dengan emosi positif manusia???? bagaimana dengan konsep psikologi positif??
Emosi positif individu akan lebih berperan pada ranah prilaku... sebuah aura positif manusia lebih terlihat pada mereka yang memilki kecerdasan emosi, beberapa konsep psikologi positif digunakan dalam area praktis ke arah perubahan perilaku individu.
Emosi positif dengan aura positif manusia...
mampu menggerakkan manusia lain ke arah tertentu pada ranah prilaku.
Emosi negatif manusia bisa melahirkan sebuah karya tertulis...
mampu menggerakkan manusia pada ranah kognisi.
Jika fakta berkata sebuah karya yang elegan hanya mampu dilahirkan dari kondisi emosi manusia yang labill. akankah manusia membutuhkan stressor untuk menghasilkan sebuah karya??
Manusia akan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan dalam hidup... pasti dan tidak bisa dielakkan
"Opto Ergo Sum" _ aku memilih maka aku ada. eksistensi manusia diakui dengan memilih dari beberapa pilihan yang ada di hadapanya. sikap diam dan tidak bertindak merupakan sebuah pilihan pula. setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi masing2.... dan konsekuensi dari pilihan itulah stressor hidup !!
terus berkarya..... karena sang Pencipta, membekalimu dengan potensi nyata..
ketika masa beralih_ mencoba menemukan makna diantara serpihan mozaik galau..
Senin, 20 Juni 2011
Rasa Yang Tak Logis ataukah Logika Yang Tak Berasa
Rasa.....
entah kenapa begitu susah ku cerna kehadiranmu..
hadir dan perlahan hancurkan tatanan sistem operational logika..
langkahmu tak pasti...
sangat fluktuatif bahkan logical sequence akalpun tak mampu tuk jadi kompas penunjuk arah..
Sesaat logika bunuh rasa, ketika grafik perjalanan itu mulai melemah..
ya... sesaat....semua terkendali dan sistem operational itupun berjalan dengan semestinya.
tapi entah kenapa ketika grafik rasa mulai tampakkan manufernya, logika ini tak mampu lagi pertahankan tatanan sistem...
Rasapun bebas tuk kepakkan sayapnya, airan afeksi ini dengan mudahnya mengalir hingga neuron terkecil dalam tubuh.. logikapun diam membisu dengan ketidakberdayaanya...
rasa yang tak logis ataukah logika yang tak berasa... kenapa kohesifitas keduanya susah untuk tercipta..
Hingga suatu masa.... Super Ego datang..
isyaratkan makna serta posisi sebuah norma dalam area
Ia hadir dengan ketegasan... melalui SabdaNya
bahwa semua memiliki area dan masa tersendiri...
Kau tak perlu risau dengan rasa yang tak logis ataupun logika yang tak berasa.
karena masing-masing memiliki wilayah, aturan, dan cara yang berbeda.
semua akan indah pada waktu yang tepat, dan tempat yang sesuai
Hanya butuh cara yang cantik tuk hadirkan keduanya dalam forum...
Ya Allah....
Ku hanya ingin ikuti jalan yang Kau isyaratkan lewat interpreter pilihanMu....
please.. ^_^
entah kenapa begitu susah ku cerna kehadiranmu..
hadir dan perlahan hancurkan tatanan sistem operational logika..
langkahmu tak pasti...
sangat fluktuatif bahkan logical sequence akalpun tak mampu tuk jadi kompas penunjuk arah..
Sesaat logika bunuh rasa, ketika grafik perjalanan itu mulai melemah..
ya... sesaat....semua terkendali dan sistem operational itupun berjalan dengan semestinya.
tapi entah kenapa ketika grafik rasa mulai tampakkan manufernya, logika ini tak mampu lagi pertahankan tatanan sistem...
Rasapun bebas tuk kepakkan sayapnya, airan afeksi ini dengan mudahnya mengalir hingga neuron terkecil dalam tubuh.. logikapun diam membisu dengan ketidakberdayaanya...
rasa yang tak logis ataukah logika yang tak berasa... kenapa kohesifitas keduanya susah untuk tercipta..
Hingga suatu masa.... Super Ego datang..
isyaratkan makna serta posisi sebuah norma dalam area
Ia hadir dengan ketegasan... melalui SabdaNya
bahwa semua memiliki area dan masa tersendiri...
Kau tak perlu risau dengan rasa yang tak logis ataupun logika yang tak berasa.
karena masing-masing memiliki wilayah, aturan, dan cara yang berbeda.
semua akan indah pada waktu yang tepat, dan tempat yang sesuai
Hanya butuh cara yang cantik tuk hadirkan keduanya dalam forum...
Ya Allah....
Ku hanya ingin ikuti jalan yang Kau isyaratkan lewat interpreter pilihanMu....
please.. ^_^
Senin, 25 April 2011
Bisikan Alam Kala Senja Menyapa
Suatu senja...
KAU bawa aku dengan takdir-MU..
pada suatu denah... dimana KAU buatku bisa merasa..
sendiri... sepi... sunyi... dan aku benci...
disaat yang sama ketika ku mengeluh padaMu...
kau terbangkan pikirku hingga kau buat semua begitu hidup..
semua tampak nyata...ku lihat, ku dengar, dan aku senyum...
ku terdampar disuatu sudut gubuk ditengah hiruk pikuk tengah kota.
dengan air yang terus KAU alirkan dengan derasnya...
dia ciptakan irama ketika bertemu dengan atap gubuk serta benda keras yang lain,
dia belai lembut pelepah pohon, jalanan serta segala yg ia lewati hingga tampak segar kembali..
bersama hembusan angin yang mengajak helai daun tuk berdansa...
ssstttttt..... dengar sejenak :
mereka bergulung2.. bekerja bakti bersihkan jalan..)
brmmmmm bbrrrrmmmmmm
sejenak aku terhenyak... rupanya suara motor cross melintas di hadapanku dan menarikku kembali ke alam sadar.. rupanya hujan sudah reda. dan saatnya ku lanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
sebelum ku melaju.. sempat ku liat pohon yang sudah tampak segar... dan ku lempar sedikit senyumku pada nya.
KAU bawa aku dengan takdir-MU..
pada suatu denah... dimana KAU buatku bisa merasa..
sendiri... sepi... sunyi... dan aku benci...
disaat yang sama ketika ku mengeluh padaMu...
kau terbangkan pikirku hingga kau buat semua begitu hidup..
semua tampak nyata...ku lihat, ku dengar, dan aku senyum...
ku terdampar disuatu sudut gubuk ditengah hiruk pikuk tengah kota.
dengan air yang terus KAU alirkan dengan derasnya...
dia ciptakan irama ketika bertemu dengan atap gubuk serta benda keras yang lain,
dia belai lembut pelepah pohon, jalanan serta segala yg ia lewati hingga tampak segar kembali..
bersama hembusan angin yang mengajak helai daun tuk berdansa...
ssstttttt..... dengar sejenak :
- angin : alam... ayo kita bermain. sejenak lepaskan beban..lari se kencang-kencangnya..ayo pohonn.... ayolah gerakkan badanmu.. kau sudah terlalu lelah tuk panyungi manusia kala mereka kepanasan.
- pohon : trimakasih angin..tampaknya ototku memang sudah mulai kaku.. dan butuh sedikit olahraga..
- air : dan aku datang tuk guyur tubuhmu yang sudah tak segar lagi pohon....
- pohon : air.. lihatlah.. badanku kini terlihat bersih.. segar.. hmmmm aku bahagia punya kawan seperti kalian. air... angin... apa yang kalian lakukan???
mereka bergulung2.. bekerja bakti bersihkan jalan..)
- air dan angin : nanti... ketika masa beralih, kau yang harus menjaga manusia dari panasnya terik matahari...kau juga harus suplai mereka dengan oksigen mu pohon..salam ya... bwt gadis didepanmu..
brmmmmm bbrrrrmmmmmm
sejenak aku terhenyak... rupanya suara motor cross melintas di hadapanku dan menarikku kembali ke alam sadar.. rupanya hujan sudah reda. dan saatnya ku lanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.
sebelum ku melaju.. sempat ku liat pohon yang sudah tampak segar... dan ku lempar sedikit senyumku pada nya.
Sabtu, 09 April 2011
Stereotipe Sebuah Mesin Pencipta Sekaligus Penghancur Mind-Set
sesaat...
konsep diri membuyar...
efikasi diri beredar....
dan.. kayuh itu begitu rapuh tuk kayuhkan laju perahu menuju pelabuhan tertuju..
selembar kertas kuning dengan kekuatan tinta pencetaknya
telah menggugah fikirku....
hingga membawa angan pada lembaran kertas sebelumnya...
kertas putih.... kau hadir di kehidupanku tanpa permisi, tanpa undangan
kau hadir dengan memanyungi misi pencitraan diri dari masing- masing ukiran tintamu.
begitu hebat tinta itu menari di atas kertas hingga tanamkan stereotipe di benakku.
dalam durasi waktu yang tak panjang, tanpa ku sadari stereotipe kertas itu semakin dalam tertanam.....
rupanya ia telah berkolaborasi dengan verbalisasi pemegang tinta,
ya.... lebih tepatnya pengamat realita dengan segudang teori ilmiahnya.
walaupun sebagian mereka hadir dari latar yang berbeda... mereka cukup memiliki kohesifitas yang tinggi
hebat.... sebuah mind-set manusia terbentuk dari lembaran kertas dengan label... validitas dan reliabilitas telah teruji.... waktu terus berlalu... hingga datanglah si kertas kuning membawa citra diri dengan cara yang serupa namun citra yang berbeda...
bingung.... berontak.... semua terlihat abu-abu...
arogansi emosi beraksi....
ku coba hadirkan nalar.. ku coba fahami diri....
ku begitu mencintai dan menghargai sebuah data dan fakta... tp justru aku dibingungkan oleh keduanya..
sedikit bimbang tapi aku menikmati kebimbanganku...
rasa nggk bisa bohong.... hanya butuh sedikit cara cantik tuk fahami kebimbangan sebuah rasa.
bolehlah... stereotipe baik dari data empiris, maupun verbalisasi manusia dengan segudang teorinya mampu hadirkan pola fikir tertentu... tp itu bukan harga mutlak.... bagaimanapun kondisi saat ini bukan jadi alasan sebuah kegagalan.... "berbaik sangkalah pada Tuhanmu... karena IA sesuai dengan prasangka hambaNya"
konsep diri membuyar...
efikasi diri beredar....
dan.. kayuh itu begitu rapuh tuk kayuhkan laju perahu menuju pelabuhan tertuju..
selembar kertas kuning dengan kekuatan tinta pencetaknya
telah menggugah fikirku....
hingga membawa angan pada lembaran kertas sebelumnya...
kertas putih.... kau hadir di kehidupanku tanpa permisi, tanpa undangan
kau hadir dengan memanyungi misi pencitraan diri dari masing- masing ukiran tintamu.
begitu hebat tinta itu menari di atas kertas hingga tanamkan stereotipe di benakku.
dalam durasi waktu yang tak panjang, tanpa ku sadari stereotipe kertas itu semakin dalam tertanam.....
rupanya ia telah berkolaborasi dengan verbalisasi pemegang tinta,
ya.... lebih tepatnya pengamat realita dengan segudang teori ilmiahnya.
walaupun sebagian mereka hadir dari latar yang berbeda... mereka cukup memiliki kohesifitas yang tinggi
hebat.... sebuah mind-set manusia terbentuk dari lembaran kertas dengan label... validitas dan reliabilitas telah teruji.... waktu terus berlalu... hingga datanglah si kertas kuning membawa citra diri dengan cara yang serupa namun citra yang berbeda...
bingung.... berontak.... semua terlihat abu-abu...
arogansi emosi beraksi....
ku coba hadirkan nalar.. ku coba fahami diri....
ku begitu mencintai dan menghargai sebuah data dan fakta... tp justru aku dibingungkan oleh keduanya..
sedikit bimbang tapi aku menikmati kebimbanganku...
rasa nggk bisa bohong.... hanya butuh sedikit cara cantik tuk fahami kebimbangan sebuah rasa.
bolehlah... stereotipe baik dari data empiris, maupun verbalisasi manusia dengan segudang teorinya mampu hadirkan pola fikir tertentu... tp itu bukan harga mutlak.... bagaimanapun kondisi saat ini bukan jadi alasan sebuah kegagalan.... "berbaik sangkalah pada Tuhanmu... karena IA sesuai dengan prasangka hambaNya"
Senin, 04 April 2011
Langganan:
Postingan (Atom)