MEMBACA,MENAMBAH WAWASAN____MENULIS,MEMPERTAJAM ANALISA___DISKUSI,MEMBUKA CAKRAWALA

Sabtu, 26 Mei 2012

Bersyukur Atas Keterbatasan

Lensaku hari ini menangkap slide "quote" pada artikel "bersyukur atas kelebihan dan bersabar atas keterbatasan"sebuah quote yang cukup familiar ditengah masyarakat namun... nalarku saat itu berkata : mari bersyukur atas keterbatasan.

Pada sebuah disiplin ilmu psikologi, retorika penelisik karakter manusia menjadi alat yang cukup ramai diburu. dengan segala konsep memanusiakan manusia.. mereka melihat segala tentang manusia sangat bisa dikomersilkan bahkan dalam hal pendidikan --> komersialisasi pendidikan. tidak sedikit kita jumpai buku membaca pikiran orang semudah membaca buku, alat pendeteksi pikiran dll dari perspektif ilmiah hingga magis.

Sebuah pertanyaan yang muncul dalam acara asi golden ways  "siapa yang ingin dapat membaca semua pikiran orang??" jari telunjuk pun bermunculan di permukaan. "siapa yang ingin pikiranya dibaca orang lain?" tak satupun telunjuk didapat
bayangkan --> jika kita sedang mengisi sebuah acara lalu seturunya dari podium, jatuh terpeleset  dan kita mampu membaca isi setiap kepala yang melihat kita.
betapa malunya.....
betapa mindernya...
kemungkinan terbesar menjadikan kita berpikir sekian kali untuk berada dikeramaian manusia.

Paranormal, magisian, dukun dan berbagai pelatihan untuk dapat melihat hal-hal yang ghoib. tidak sedikit kita jumpai manusia yang bertapa dan segala ritual untuk mendapatkan keahlian tertentu.
bayangkan --> jika kita mampu melihat segala makhluq ghoib dengan segala perwujudan mereka, bisa jadi tidak ada yang dapat kita lakukan. hidup kita hanya ada kecemasan, ketakutan dsb.

Sang Pencipta mencipta pencitaan sesuai kadar dan kebutuhanya bahkan disertakan juklak untuk menjalaninya, pun dengan interpreter juklak. karena ciptaan di beri keterbatasan untuk menelisik lebih lanjut tentang segala.

_fabiayi alaai robbikuma tukadziban_

5 komentar:

  1. humanisme pada intinya to..
    apakah ada dalam korpus agama kita??
    memanusiakan manusia adalah imbas dari rasionalisasi..
    rasionalisasi selalu ditentang oleh mereka
    dengan alasan terlalu memberikan porsi berlebihan terhadap akal untuk mencandra alam semesta..
    sehingga hasilnya kita akan bingung ketika dituntut untuk menjadi humanis dan menolak menjadi rasionalis..
    mirip mirip mereka yang menolak modernisme ala barat dan mereka tiap hari bergelut dengan teknologi seperti kita sekarang...

    BalasHapus
  2. jika kau fikir kau berhak atas segala tingkah akalmu maka itulah yang terjadi.lagi-lagi intelektual akan hadir, hanya sebagai penyaji data saja. tak akan ada standarisasi kebenaran mutlak --> maka wajar selalu bersinggungan dengan berbagai faktor.

    bagiku kebenaran mutlak hanya pemilik pencipta alam saja. seluruh polah logika manusia akan terkontrol dengan sistem yang telah tercipta. tidak dapat kita pungkiri, bahwa keteraturan sistem menjadikanya terkiblat.

    BalasHapus
  3. itulah jawabannya sudah dirimu berikan sendiri. kebenaran mutlak hanya milik tuhan saja. kita mungkin tidak dapat mendekatinya dengan sempurna dan bersahaja. saya akan sangat berbahagia jika dapat mendekati kebenarannya dengan sebuah elektron yang menempel di gelapnya langit.
    permasalahannya adalah yang ingin mengintroduksi, mengkasut, atau malah bahkan memaksakan kebenaran mutlak tuhan kepada sesama.
    secara teori pengetahuan (epistem), kita hanya penyaji data. kalau kita ingin mempengaruhi semua, maka netralitas iptek akan runtuh. hal ini ada kalau dipengaruhi oleh emosi/nafsu..
    dan kulihat itulah adanya dirimu... haaaaaaaaaaa... pissssssssssss kawan....

    BalasHapus
  4. wkwkwkkwkwkkwk..... senjata makan tuan. mana buktinya klo guweh begindang??? pitnahhhh :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. tulisanmu menunjukkan itu semua. walaupun diperlukan faset yang tak terhingga banyaknya, untuk menubuhkan sebuah materi dalam selayang pandang.. mungkin engkau lebih mengerti arti sebuah tulisan yang tersurat maupun tersirat. bukankah tulisan dihadirkan untuk memusatkan segala yang divergen..
      semuanya perlu dipermasalahkan dan difikirkan ulang. bayangkanlah ketika tuhan hanyalah penyaji data kasar dan kita yang melakukan sinkronisasi dengan segala yang kita punya. bukankah itu maksud dari tulisanmu tentang interpreter?
      apakah seorang atau beragam interpreter membutuhkan standarisasi kebenaran mutlak. ketika seorang penterjemah menginginkan semuanya mengikuti dia, maka ada penindasan disini. begitu pula dengan para penterjemah yang menginginkan standarisasi terhadap sesuatu hal yang akan menjurus kepada pemutlakan yang sebenarnya tidak mutlak, atau -meminjam emha: ada pemberhalaan terhadap makhluq- menaikkan sesama menjadi diatas.. yang menjadi penting dalam pertanyaan kita adalah standar mutlak yang seperti apa? kan kita atau dia cuma sebatas interpreter to.. atau mungkin standarisasi kebenaran mutlak yang diinginkan olehmu adalah sistem religi?
      sekali lagi sistem religi hanyalah interpretasi salah seorang dari kita saja yang tidak lepas dari beragam manipulasi dari sang interpreter..
      nb: sekedar saran, membaca buku tentang interpretasi sangat perlu agar dapat menjadi acuan dalam bertindak dan yang terpenting tidak ada ketertumpangtindihan dalam menjelaskan sesuatu. ayam sori kalo cuma pitnah.. hahahaha.... :p

      Hapus